Skip to main content

Sky Letter (Surat dari Sang Langit)




Sky Letter (Surat dari Sang Langit)

Dear Lily,
Aku menemukan buku ini di bawah meja belajarmu, sepertinya buku ini sudah lama tidak kau sentuh, hanya terdapat lembaran berisi namamu, nomer hp, dan alamat e-mail. Aku jadi bertanya, apa tujuanmu membeli buku diary ini?
Jadi, buku ini aku bawa dan aku gunakan sebagai diary-ku. Tak apa kan? Mungkin kau baru membaca buku ini saat aku sudah tidak ada di dunia ini.
Aku mulai menulis apa ya? Ah, hari pertama aku bertemu denganmu, empat bulan lalu di Perpustakaan Kota. Kau duduk di dekat jendela menghadap jalan raya sedangkan aku di kursi sebelahmu, tapi beda meja. Kau membawa beberapa buku komik dan satu novel. Kau terlihat tidak antusias dengan komik yang kau bawa, lalu kau mengambil novel dengan cover bewarna biru langit yang cerah. Kau begitu serius membacanya, seluruh konsentrasimu tercurah pada novel tersebut, satu jam kau tidak bergeming dari sana. Dan saat aku menoleh, kau menahan tangisan, kau ingin terisak, tapi kau menahannya karena perpustakaan itu cukup ramai. Aku juga menahan tawaku saat melihatmu menangis karena sebuah novel.
Aku melihatmu sangat sensitif. Aku sedikit kaget, ketika kau membaca halaman terakhir, kau masih di tempat dan menatap jalan raya yang terlihat selama lima menit. Apa yang sedang kau lakukan?
Dan aku jatuh cinta padamu.


Dear Lily,
Maafkan aku, atas segala keegoisan yang kulakukan padamu, saat mengajakmu pergi menonton di bioskop, padahal kau tidak suka. Saat kau kuajak menonton konser band kesukaanku, padahal kau sangat benci konser band indo. Kau yang membenci kebisingan, lebih memilih berdiam diri di rumah dan menghilang ditumpukan kertas bernama buku.
Saat aku melarang masuk ke kamarku, maafkan aku karena aku tak ingin kau melihat apa yang terjadi padaku.

Dear Lily,
Hari ini sangat sakit. Badanku seakan tidak bisa digerakkan, begitu berat saat menulis.
Aku ingat pertama kalinya kau menunungguku selama satu jam, kau terlihat sedikit marah karena kau diam, tapi kau tidak marah mungkin karena ini pertama kalinya aku terlambat. Hari itu, kau mengajakku ke toko buku, dan saat aku berangkat, jantungku sangat sakit hingga aku tak bisa berangkat, aku mencoba berjalan dan menemuimu. Beruntungnya aku masih bergerak hari itu dan menemuimu. Keesokannya, aku tahu bahwa aku terkena penyakit jantung dan semenjak hari itu, hidupku tak lagi sama. Aku merindukanmu, Lily.

Dear Lily,
Kaze wa mou tsumetai keredo / Hembusan angin terasa dingin
Natsukashii sora no nioi ga shitan da / Mengingatkanku suasana langit nostalgia
Hoomu kara umi ga mieru / Dari tempatku berdiri kulihat lautan
Kono basho de kimi wo sagashiteru / Dari sini aku 'kan menunggumu
Lirik lagu yang aku ambil darimu, satu minggu kau mencoba menghafal lagu ini. Kau tidak pandai menyanyi, tapi kau sangat menyukai lagu-lagu dari penyanyi ini, YUI. Saat aku baca artinya, aku mulai mengerti lagu ini, sangat tepat untuk mengingatmu. Disini dingin dan sangat sepi tanpamu, tanpa menggodamu, tanpa melihat tawamu, tanpa mendengar jeritan amarahmu padaku, tanpa suara fals-mu menyanyikan lagu ini, aku mngingatmu hari ini. Bernostalgia di hari-hari aku bersamamu, hari-hari di mana kau memberiku rasa untuk terus hidup dan berjuang dengan penyakitku, I REMEMBER YOU.
Kau yang sangat takut ketinggian, tapi sangat suka naik permainan yang memacu adrenalin, cukup aneh untuk seorang kutu buku. Kau dengan rambut panjang bergelombang, tinggi badan tak lebih dari pundakku (maaf, ya!), kutu buku, seorang japan lover, tea lovers, sensitif untuk sebuah buku, tidak peduli dengan apa yang kau pakai yang terpenting nyaman, si keras kepala, dan si cerewet. Sifatmu sangat berbeda denganku.

Dear Lily,
Kau pernah mengatakan bahwa aku sebagai langit bagimu. Langit yang selalu memperlihatkan setiap perasaan yang kumiliki pada orang lain, orang yang tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadap diriku, orang yang selalu menjadi diri sendiri, tapi orang yang selalu peduli pada orang lain. Orang yang selalu merangkul setiap temannya dengan erat, teman adalah segalanya bagiku.
“I love the SKY, whatever you are, when you are blue, shiny, cloudy, rainy, orange, black with star or without star. I like to face the SKY whatever you are.”Kata yang selalu kau katakan padaku, aku menemukan di halaman terakhir diary ini. Kau begitu mencintai langit dan aku sangat menyukai langit yang kulihat bersamamu.
Hari ini, sangat melelahkan, aku harus mengikuti terapi.

Dear Lily,
Pertama kali aku begitu lemah di hadapanmu, aku terjatuh di hadapanmu. Kau terlihat sangat pucat dan sangat sedih. Saat melihatmu, aku merasa sedikit senang dan sangat menyesal. Senang karena kau mencemaskanku bukti kau mencintaiku. Menyesal karena aku tak ingin melihatmu menangis karenaku.
Aku tak sanggup melihatmu menangisiku, jadi aku berbohong dan tidak mengatakan apa pun tentang penyakitku. Penyakit ini kudapatkan saat satu bulan kita jadian. Aku memiliki pilihan agar kau tidak bersedih karenaku, tapi aku lebih sakit jika aku tak melihatmu, dan hingga dua bulan kemudian penyakit ini menjadi semakin parah. Aku menolak terapi karena aku akan terlihat lemah dihadapanmu.
Aku sedang menunngu donor jantung untuk mengganti jantungku yang sudah rusak. Tapi karena keadaanku semakin parah, aku pergi meninngalkanmu tanpa mengatakan selamat tinggal. Maaf!
Sudah hampir dua minggu sejak aku tidak menghubungimu. Aku tahu kau pasti mencariku, kau pergi ke kampusku dan bertanya pada teman dekatku, Reza. Reza memang tahu tentang keadaanku, tapi aku menyuruhnya untuk tidak mengatakan apa pun padaku.

Dear Lily,
Apa kabarmu? Kata Reza, kau terlihat sangat sedih dan cemas. Aku ingin muncul di depanmu dan memelukmu. Lily.
Aku tahu kau akan kuat dengan kehilanganku yang tiba-tiba. Maaf atas segala kebohongan yang kulakukan padamu, kebohongan tentang penyakitku. Kebohongan bahwa aku membencimu, kebohongan pada setiap kata di surat yang aku kirimkan padamu. Aku menulis sudah tidak mencintaimu lagi, meyuruhmu untuk tidak mencariku lagi, menyuruhmu untuk melupakan kenangan kita, menyuruhmu membuang apa pun yang aku berikan, dan aku menulis aku telah membuangmu. Kejahatan yang takkan pernah bisa kutebus, dosa yang tak termaafkan.

Dear Lily,
Hari ini aku sangat senang, ada donor jantung untukku. Jantungnya sudah cocok untukku. Aku akan segera dioperasi jika tubuhku sudah siap, aku akan berusaha lebih keras. Dalam tiga hari mungkin aku bisa dioperasi dan mendapatkan jantung baru, lalu seminggu kemudian aku mungkin bisa pulang.
Lily, aku ingin menemuimu secepat mungkin.

Dear Lily,
Hari ini aku akan dioperasi, pukul 14.00 aku akan mendapatkan jantung baru. Aku sangat berharap untuk ini, aku berdo’a dengan sangat khusyuk.

Lily, kau tahu aku berterima kasih segalanya darimu.
Kebahagian yang kau berikan padaku akan selalu kusimpan dalam ingatanku.
Senyuman yang kautampakkan padaku
Rasa yang kau hampirkan padaku

Kau memang tidak sempurna
Aku tidak mengharap kesempurnaan darimu
Tapi bukan berarti aku menyukai segala kekuranganmu
Aku hanya mencintaimu

Terima kasih, kau berikan kesempatan untuk bahagia
Terima kasih, kau berikan kenangan terindah
Terima kasih, kau jadikan aku langitmu

Mungkin aku tak bisa jadi langit terbaik bagimu
Tapi aku akan selalu menjadi langit yang bersamamu
Langit yang selalu ada dalam siang atau malam
Langit yang selalu merangkulmu
Langit yang takkan meninggalkanmu
Langit yang selalu ada untukmu

Lily, kau tahu kau seperti bunga teratai saat aku meilhatmu, teratai yang bisa hidup di atas lumpur sekalipun. Teratai yang sangat kuat dan mudah beradaptasi di setiap keberadaannya. Teratai yang selalu menampakkan keindahannya tanpa pernah mengatakan kata menyerah. Teratai yang selalu menatap langit yang dicintainya, berdiri tegap dalam setiap pilihan hidupnya. Aku berharap untuk tetap memiliki detak jantung untuk melihatmu lagi, Lily. Terima kasih.
***
Sampul buku itu bewarna coklat kulit, tebal dan rapi. Halaman pertama tertuliskan Lily Rahayu, nomer teleponku, dan alamat e-mailku yang menandakan buku ini milikku, tapi isinya bukan tulisanku. Saat aku membaca tulisan pertama, aku langsung menangis. Si Bodoh Zaky, Zaky Rahardian, Si Bodoh yang tak pernah menulis, yang suka menyembunyikan barangku, dan Si Bodoh yang membuatku jatuh cinta.
Kau membuatku tak bisa menghafalkan lagu itu.
Kau memang selalu menjadi langitku, sampai kapan pun itu.
Kau mengenalku lebih dari aku sendiri. Bodoh sekali kau memberikan surat padaku, bukankah lebih mudah mengirim SMS. Jika kau memberikanku surat, itu berarti kau masih menganggapku sebagai orang yang penting bagimu. Dan aku takkan pernah melupakanmu
Kau menulis puisi untukku? Padahal kau yang selalu menyindir novel cinta yang aku baca.
Teratai? Aku suka bunga teratai.
Kau menjalani operasi cangkok jantung meski ternyata jantung itu menolak tubuhmu saat operasi berjalan dan kau pergi untuk selamanya tanpa bisa melihatku, tanpa aku tak bisa melihatmu.
Aku memaafkanmu. Aku juga berterima kasih segalanya, segala apa yang kau lakukan untukku, untuk menjaga senyumanku, untuk menjadi langitku, dan untuk detak jantung yang kauharapkan untukku. Terima kasih, Langitku.

By Ludia M.P

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Love Forever

Cinta sejati bukanlah hal yang klise. Aku percaya itu, itulah yang membuatku terus menunggu. Aku percaya dia akan datang padaku, sebuah harapan yang terus kugenggam dalam impianku. Mungkin bukanlah seorang pangeran, bukanlah seorang yang kaya ataupun charming. Cinta sejati yang selamanya akan terus berkembang meski kita sudah mati. I believed it. We never died. Bukankah itu kata yang aneh, tapi aku yakini itu. Ketika seseorang memiliki anak kandung, dia akan memberikan DNA pada anak itu, sebuah gen yang akan melekat pada anak itu. Anak itu akan terus berkembang hingga dia punya anak yang akan menjadi cucumu dan begitulah selanjutnya. DNA itu akan terus diturunkan. Jika kau memiliki cinta sejatimu, akankah itu lebih indah layaknya sebuah kelahiran. Hari ini aku baru saja menonton sebuah film yang menceritakan tentang sebuah cinta sejati yang hidup selamanya. Aku berpikir apakah tema cinta masih sesuatu hal yang utama dalam hidupku. Melihat kisah yang berakhir bahagia, hal yang mengheran...