Skip to main content

Apa yang sebenarnya kulakukan?

Aku masih di tempat yang sama
Berdiri terpaku, melihat sekeliling
Menimbang setiap langkah

Pilihan sulit terpapar di depan
Hanya butuh satu langkah menggapai
Namun sirna tanpa sisa
Terlihat duri tajam menghadang

Terlihat jelas keraguaan terpapar
Menginjakkan sebuah langkah berat
Pertimbangan mengalir deras
Mengucurkan segala kemungkinan
Tanpa henti berpikir

Tapi apa yang sebenarnya kulakukan?
Aku masih terdiam ditempat yang sama
Di tempat aku merenung
Di tempat aku terhenti

Dan apa yang sebenarnya kulakukan?
Takkan ada arti jika aku di sini
Takkan ada arti tanpa langkah

Apa yang sebenarnya kulakukan?

Comments

Popular posts from this blog

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Cermin

Judul : Cermin Author : Ludia M.P Project for :    @YUI17Melodies     #MelodiHijauOranye    Theme Song : YUI- Again Keywords : tangis, awal, mimpi, kenangan, dan musuh Aku menatap cermin di depanku, meneliti setiap detil diriku. Rambut ikal panjang sepinggang yang biasa dipuji oleh orang karena sedikit unik. Rambut yang mengembang ini sedikit mengganggu ketika angin menerjang, akan menampakkan rambut berantakan dan terlihat seperti monster besar. Aku memandang wajah itu, kulit putih dengan sedikit bekas jerawat di pipi kanan. Wajah sedikit oval, hidung yang tak terlalu mancung, bibir merah jambu tersenyum, mengulum bibirku sendiri dan memuji diri sendiri. Aku cukup bangga dengan bentuk bibir ini. Mata tajam yang memandang mata di seberang cermin itu. Mata sipit dengan bola mata bewarna coklat ke arah hitam, bulu mata yang melengkung manis bertengger di bagian atas dan bawah mata, dan alis tipis bekar dicukur lebih ke arah berantakan. Memandang mat...

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...