Skip to main content

Posts

Q & A

"Hoaaaah!" Queen melihat jam dinding di depannya dengan mata separuh terbuka. Sedikit merenggangkan badan dan membuka selimut, dia mencoba melihat jam berapa sekarang. Lama dia memandangi jam dinding itu, lalu melongo karena kaget jarum panjang di antar 6 dan 7, dan jarum pendek di antara 7 dan 8. Dia mengingat hari ini, "hari ini hari senin, gumamnya santai dan mulai menata rambutnya yang berantakan. "Eeeeeeeeeeeh!" teriaknya keras."Huwaa, senin kan kuliahnya Pak Made, wah dosen killer , gawat!" secepat kilat Queen menuju kamar mandi untuk mandi, meski air sangat dingin di pagi itu, dia sudah tidak menghiraukan lagi. Sepuluh menit kemudian Queen sudah siap untuk berangkat kuliah. Dia menuju meja makan dengan lari-lari kecil menuruni tangga, "Non, jangan lari-lari! Nanti jatuh ,lho!" nasihat dari Bi Imah, asisten rumah tangga alias pengurus Queen sejak kecil. "Iya, Bi! Aku tak sempat makan udah telat, nih! teriak Queen yang sudah di dep...

Perjalanan km 5 Jam 5

Aku duduk di dalam kelas yang dipenuhi dengan manusia pemikir yang mem bosan kan. Mereka mengamati papan yang di sebelahnya terdapat seorang manusia tua dengan penuh jenggot hampir seleher. Laki-laki di depan itu menjelaskan tentang hal yang tidak kumengerti, sebuah penyakit yang belum bisa disembuhkan. Dia membicarkan tentang revolusi dalam bidang kedokteran. Ya, itulah aku, seorang mahasiswa kedokteran di sebuah universitas terkenal di kotaku. Jujur saja, aku adalah orang yang tidak menyukai ini, duduk di bangku dan mendengarkan orang lain di kelas. Waktu SMA aku sudah memutuskan untuk pergi dari kota ini, pergi untuk menggapai keinginanku, menjadi seorang teknisi mobil. Aku sudah mendapatkan surat rekomendasi dari sebuah perusahaan dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Bandung. Tapi apa yang terjadi padaku sekarang, duduk menanti jam kuliah selesai, pergi dari sini dengan segala ke bosan an. Bukan kemauanku berada di sini, ini semua karena ayah. Ayah menyuruhku untuk sekolah kedo...

Bangku Taman, 1 Juli

Jalan sepi yang lenggang itu, dengan paving abu-abu yang mulai berlubang. Jalan ini selalu tampak sepi, jarang ada orang yang melewatinya apalagi ketika hujan bahkan petugas kebersihan pun jarang membersihkan jalan ini. Tidak heran, jalan ini sepi karena terletak di bagian paling pojok sebuah taman. Daun-daun yang berserakan yang hampir tiga hari tidak dibersihkan. Meski jarang dilewati bagian taman ini sangat indah, terdapat pohon maple besar  di setiap sisi-sisi jalan, hamparan rumput hijau yang bersanding dengan berbagai macam bunga, seperti mawar, aster, gerbera, iris, dan lily. Ada juga sebuah sisi dengan deretan bunga matahari. Saat musim semi tiba, hijau dedaunan akan nampak sangat indah, daun yang bertebangan karena musim semi seperti hujan hijau yang tampak indah. Ketika malam tiba, dari taman bagian ini juga bisa melihat berbagai rasi bintang. Taman ini hanya diterangi beberapa lampu taman, sehingga cahaya bintang akan terlihat berkelip indah. Di bawah sebuah pohon ...

Cermin

Judul : Cermin Author : Ludia M.P Project for :    @YUI17Melodies     #MelodiHijauOranye    Theme Song : YUI- Again Keywords : tangis, awal, mimpi, kenangan, dan musuh Aku menatap cermin di depanku, meneliti setiap detil diriku. Rambut ikal panjang sepinggang yang biasa dipuji oleh orang karena sedikit unik. Rambut yang mengembang ini sedikit mengganggu ketika angin menerjang, akan menampakkan rambut berantakan dan terlihat seperti monster besar. Aku memandang wajah itu, kulit putih dengan sedikit bekas jerawat di pipi kanan. Wajah sedikit oval, hidung yang tak terlalu mancung, bibir merah jambu tersenyum, mengulum bibirku sendiri dan memuji diri sendiri. Aku cukup bangga dengan bentuk bibir ini. Mata tajam yang memandang mata di seberang cermin itu. Mata sipit dengan bola mata bewarna coklat ke arah hitam, bulu mata yang melengkung manis bertengger di bagian atas dan bawah mata, dan alis tipis bekar dicukur lebih ke arah berantakan. Memandang mat...

First Love Lies Deep

First Love Lies Deep. Cinta pertama sulit untuk dilupakan. Dan itulah yang terjadi. Hidup itu dimulai sejak aku kecil, saat aku belum mengenal arti cinta terhadap kekasih. Hidup dimana aku masih menanyakan jati dririku sendiri. Hidup dimana aku belum memikirkan orang lain. Mengenalmu saat itu, bukanlah rencanaku, tapi itu adalah pilihanku. Kau yang tetanggaku sejak kecil, mengisi hariku dengan permainan polos yang menguras keringat. Lagu tawa pun terdengar membahana dariku, darimu, dan teman lainnya. Langit saat itu begitu indah dan terang dipenuhi canda sang awan. Terkadang memang terdengar suara keras dari sang guntur yang membuat kita terpaksa berpisah hingga air hujan turun ke bumi, saat kita saling merindukan. Namun tak ada halangan untuk bermain di hari hujan. Kau mengajakku memainkan sebuah permainan yang dinamakan monopoli. Begitulah kau menjelaskan dengan sangat terang hingga aku mengangguk tanda mengerti. Lalu kita mulailah cerita hujan kita.  Tertawa keras, menertawakan ...

Apa yang sebenarnya kulakukan?

Aku masih di tempat yang sama Berdiri terpaku, melihat sekeliling Menimbang setiap langkah Pilihan sulit terpapar di depan Hanya butuh satu langkah menggapai Namun sirna tanpa sisa Terlihat duri tajam menghadang Terlihat jelas keraguaan terpapar Menginjakkan sebuah langkah berat Pertimbangan mengalir deras Mengucurkan segala kemungkinan Tanpa henti berpikir Tapi apa yang sebenarnya kulakukan? Aku masih terdiam ditempat yang sama Di tempat aku merenung Di tempat aku terhenti Dan apa yang sebenarnya kulakukan? Takkan ada arti jika aku di sini Takkan ada arti tanpa langkah Apa yang sebenarnya kulakukan?

Sky Letter (Surat dari Sang Langit)

Sky Letter (Surat dari Sang Langit) Dear Lily, Aku menemukan buku ini di bawah meja belajarmu, sepertinya buku ini sudah lama tidak kau sentuh, hanya terdapat lembaran berisi namamu, nomer hp, dan alamat e-mail. Aku jadi bertanya, apa tujuanmu membeli buku diary ini? Jadi, buku ini aku bawa dan aku gunakan sebagai diary-ku. Tak apa kan? Mungkin kau baru membaca buku ini saat aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku mulai menulis apa ya? Ah, hari pertama aku bertemu denganmu, empat bulan lalu di Perpustakaan Kota. Kau duduk di dekat jendela menghadap jalan raya sedangkan aku di kursi sebelahmu, tapi beda meja. Kau membawa beberapa buku komik dan satu novel. Kau terlihat tidak antusias dengan komik yang kau bawa, lalu kau mengambil novel dengan cover bewarna biru langit yang cerah. Kau begitu serius membacanya, seluruh konsentrasimu tercurah pada novel tersebut, satu jam kau tidak bergeming dari sana. Dan saat aku menoleh, kau menahan tangisan, kau ingin terisak, tapi kau menahannya karena ...