Skip to main content

Posts

Refreshing Friends

Hai, sedikit selingan nih mau kutulis, sebenarnya berawal dari updetan dari salah satu social media, niatnya cuma dikit, eh jadinya kepanjangan. So, aku post di-blog aja. Semacam coret-coret di piggiran kertas. Lagi ngobrolin yang namanya, REKREASI atau bisa disebut refreshing . Yang namanya rekreasi, kalau bisa yang nggak membebani kantong kita dong! Kalau udah membebani, namanya jadi beban. hahahaha. Kalau bisa, rekreasi itu yang hemat-hemat aja(kalau beruntung, ya dapet gratisan). Pengeluaran untuk rekreasi minimal buat transport dan makanan aja, kalau bisa jangan berlebihan. Karena aku termasuk salah seorang yang mengikuti paham hemat, bahkan terkadang sampai pelit, jadi rekreasi itu simpel aja. Ga perlu jauh-jauh, ga perlu mewah-mewah, ga perlu tempat rame, ga perlu tempat hits, yang pening hemat. Rekreasi bagiku sesimpel keluar rumah dan ndeprok  di kasur atau duduk-duduk depan leptop, minimal ga dalam rumah dan sekitarnya. Kalau lagi suntuk-suntuk banget, minimal bisa ngelia...

Meja, Kursi, Jendela Kaca, dan Senja (2)

"Ah, gadis itu lagi," desahku. Buku yang dia bawa selalu tebal dan besar, seperti album foto. Pertama kali aku melihatnya berada di trotoar depan cafe, sedang memunguti begitu banyak buku dan sketsa yang super besar, sangat tidak seimbang dengan tubuhnya yang kecil, ah, mungil. Kaca mata kecil yang selalu melorot membuatnya semakin repot saja. Menarik. Aku meneguk kopiku dan melanjutkan membaca buku yang pagi tadi kutemukan di rak bukuku. Buku lama yang sudah tak diterbitkan, buku yang sangat tipis, tapi berisi hal yang menarik. Sebuah buku kumpulan cerpen 100 kata dari berbagai penulis. Tidak semuanya penulis terkenal, tapi buku ini sangat menarik. Setelah kuselesaikan setengah buku, aku baru menyentuh cangkir kopiku, "sudah dingin ya," kataku dalam hati. Akhirnya aku memandang keluar jendela, matahari sudah setengah tenggelam, tapi cahaya matahari masih membuatku silau. Beberapa saat pikiranku melayang ke kejadian minggu lalu yang membuatku gusar, tapi masalah itu...

Halaman Terakhir (Last Page)

Aku terduduk di bawah sebuah pohon besar dekat rumahku. Beralaskan akar yang mencuat dari tanah, aku bersandar pada batang pohon itu. Daun-daun hijau yang terjatuh karena berat menampung embun. Aku memegang sebuah buku yang sudah mulai lusuh, pinggirannya bahkan sudah menguning, tertulis nama "Drea's Book" di sampul buku itu, berhiaskan gambar-gambar bintang, hal yang paling disukai Dreas. Hampir setiap halaman sudah ku baca berulang kali hingga aku hafal. Isi buku itu bertuliskan banyak hal tentang Dreas, mulai dari mimpi, peristiwa bahagia, konyol, bahkan menyedihkan. Banyak hal yang dia ceritakan dari keluarganya, sahabat, bahkan orang yang baru dia temui, tak terkecuali aku. Aku teman yang baru dikenalnya selama 3 tahun, tapi dia memberikanku hal yang berharga. Untuk hidup yang tak selamanya sendirian, untuk perbedaan yang indah, untuk pertengkaran yang lucu, dan untuk pertemuan yang selalu disertai perpisahan. Dalam buku itu juga tertulis apa yang kusikai dan kubenci...

Kebahagiaan Setangkai Bunga

Aku selalu menunggumu. Orang yang selalu datang setiap hari untuk menemuiku. Tersenyum padaku, memandangku dengan penuh rasa sayang, dan memperlakukanku dengan penuh kelembutan. Di sisi taman yang sama aku selalu menunggumu. Kau selalu menempatkanku di sisi yang dipenuhi cahaya. Memberiku kebahagiaanmu dalam setiap ekspresi yang kau tampakkan. Setia p cerita-cerita itu selalu sempurna kudengarkan, tak ada yang terlewatkan. Meski terkadang kau tak menghampiriku, kau selalu melihatku dengan mata yang selalu kurindukan. Mata yang selalu ingin kulihat dalam keadaan yang sama. Mata yang kuharapkan hanya melihatku. Hanya saat hujan turun kau tak berada di sisiku. Saat itu kau tak terlihat, membiarkanku sendiri menghadapi hujan ini. Tapi setelahnya, kau datang dengan berlari padaku. Mencemaskanku, lalu memastikan apakah aku baik-baik saja. Ekspresi cemas itulah yang membuatku tetap tersenyum meski kau pernah meninggalkanku sendiri. Tapi hal yang membuatku lebih bahagia, saat kau menjagaku dar...

Easy not Simple

"The easy thing doesn't seem like the simple think." Hidup ini tak sesederhana yang terlihat. Semakin sederhana hal yang dilakukan semakin rumit proses di belakangnya. Hal praktis yang biasa kita lakukan merupakan hasil pikiran seseorang yang sangatlah rumit. Orang-orang tersebut terbiasa terlihat pemalas, pengangguran, dan tidak memiliki kerjaan. Menurut orang lain, orang-orang tersebut orang yang selalu linglung dan selalu bengong, mereka mengira orang-orang tersebut tidak bekerja/ melakukan apa pun. Bah , padahal otak mereka bekerja lebih keras dari orang lain. Bukan karena mereka terlihat pemalas, mereka tidak melakukan apa pun. Banyak sekali contoh ilmuwan yang membuktikan hal tersebut, seperti Albert Einstein dan Isaac Newton (yang aku tahu baru ini). Mereka terlihat tidak beranjak dari tempat mereka atau dari kamar mereka karena sedang berpikir tentang hal-hal yang disekitar mereka dan mencoba menjawab pertanyaan yang berada di pikiran mereka. Otak mereka dipenuhi ...

Dalam dunia nyata, hidupku tidak terlihat nyata

Dalam dunia nyata, hidupku terasa tak bernyawa. Hidup hanya dengan detak jantung terus berdetak. Merasakan lidah ini tetap tersentuh oleh makanan. Hanya bergeser sedikit tapi tetap berbaring di kasur. Berbincang bukanlah keahlianku untuk sering dilakukan. Menambah banyak hal hanya dengan menggunakan komputer. Haruskah aku mencari pasangan dengan menggunakannya? Dalam dunia nyata, hidupku tidak terlihat nyata. Tapi inilah kenyataannya. Ayo menulis~~

Bahasa Benar dan Salah

Aku tertarik dengan sebuah paragraf bagus dari sebuah artikel "Saya percaya bahwa pikiran tercermin melalui bahasa. Berbahasa adalah berpikir. Tidak ada pikiran di luar bahasa. Maka bagi saya berbahasa adalah soal bermain pikiran, jauh melebihi benar dan salah." Source Geo Times  Artikel tersebut sedang membahas tentang sebuah penggunaan bahasa. Bahasa merupakan hasil dari sebuah pemikiran dan digunakan untuk menyampaikan dari sebuah pemikiran, karena itu pikiran takkan lepas dari sebuah bahasa. Pemilihan bahasa bukanlah tentang mana bahasa yang benar dan salah, tapi tentang konteksnya. Bahasa yang menurut saya baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan konteksnya. Seperti bahasa yang tepat digunakan untuk menulis cerpen dan artikel menggunakan bahasa yang berbeda. Menurut saya bahasa merupakan tentang budaya juga. Kita menggunakan bahasa yang tepat untuk artikel, cerpen, acara pernikahan, diskusi, dan lainnya dipengaruhi karena 'umumnya begitu' kemudian adan...