Skip to main content

Meja, Kursi, Jendela Kaca, dan Senja (2)

"Ah, gadis itu lagi," desahku. Buku yang dia bawa selalu tebal dan besar, seperti album foto. Pertama kali aku melihatnya berada di trotoar depan cafe, sedang memunguti begitu banyak buku dan sketsa yang super besar, sangat tidak seimbang dengan tubuhnya yang kecil, ah, mungil. Kaca mata kecil yang selalu melorot membuatnya semakin repot saja. Menarik.

Aku meneguk kopiku dan melanjutkan membaca buku yang pagi tadi kutemukan di rak bukuku. Buku lama yang sudah tak diterbitkan, buku yang sangat tipis, tapi berisi hal yang menarik. Sebuah buku kumpulan cerpen 100 kata dari berbagai penulis. Tidak semuanya penulis terkenal, tapi buku ini sangat menarik.

Setelah kuselesaikan setengah buku, aku baru menyentuh cangkir kopiku, "sudah dingin ya," kataku dalam hati. Akhirnya aku memandang keluar jendela, matahari sudah setengah tenggelam, tapi cahaya matahari masih membuatku silau. Beberapa saat pikiranku melayang ke kejadian minggu lalu yang membuatku gusar, tapi masalah itu dapat diselesaikan dengan mudah. Hanya masalah pekerjaan di kantor editor tentang beberapa cerpen yang dilaporkan sebagai plagiat, beruntungnya buku belum sempat dicetak, walau pun bagian percetakan gusar juga.

Ya, pikiranku selalu saja tentang pekerjaan, gila kerja kata rekan kerjaku, tapi bagiku pekerjaanku sangat menyenangkan. Saat memandang keluar jendela, tak sengaja aku melihat pantulan gadis itu di jendela yang dilapisi plastik anti sinar ultraviolet, jadi warnanya sedikit hitam. Pakaian yang dipakai gadis itu sangat unik, tampak kebesaran di tubuhnya yang mungil, tapi anehnya sangat cocok dan enak dipandang. Dia sedang berkutat di depan secangkir teh cinnamon (cangkir teh cafe ini menggunakan kaca), sesekali melihat buku tebal yang dibawanya, lalu secara tiba-tiba mengambil buku sketsa besar dan mulai menggambar. Aku ingin tahu apa yang digambarnya, dia tampak senang saat melakukannya. Setelah beberapa saat aku mengamatinya, aku mulai membaca bukuku lagi.



Setiap hari jum'at aku selalu pergi ke cafe ini dan duduk di tempat yang sama. Karena dekat dengan kantorku, aku tidak begitu suka membawa pekerjaan ke rumah, jadi aku mengerjakan di kantor atau tempat lain. Tapi di tempat ini aku lebih banyak membaca draft sebuah novel yang harus aku edit, pada akhirnya pekerjaan yang diberikan akhir minggu akan dibawa ke rumah juga. Setiap hari jum'at juga aku melihat gadis itu, memngutak-atik laptop dan sesekali melihat ke arah buku sketsanya. Gadis itu sudah menjadi semacam rutinitas untuk mengisi sela-sela mengistirahatkan mataku dari ribuan huruf. Bagian paling menarik adalah ketika dia menaikkan kaca matanya yang selalu melorot, membuatku geli.
***

Hari ini benar-benar deadline yang mematikan, aku harus bolak-balik percetakan dan kantor karena beberapa kesalahan editting yang dilakukan para mahasiswa magang. Aku sedikit berlari menuju cafe untuk menghilangkan penat hari ini, selama tiga hari harus lembur. Sedikit jalan cepat, aku tak sengaja menabrak seseorang, ah ternyata gadis itu. Dia menjatuhkan sebuah buku lama yang judulnya sangat aku kenal, sebuah buku detektif dengan cover lama. Aku mencoba membuka percakapan dengannya,"Ah, novel ini punyamu?"

Wajah gadis itu sedikit memerah membuatku tersenyum kecil. "Iya," jawabnya dengan tersipu.
"Hmmm", aku sedikit merasa gugup karena sering memergokinya memandangiku, tapi aku berpura-pura tidak menanggapinya. Saat aku masih memilih kata, tiba-tiba,
"Apa kau mau membacanya?" sautnya sedikit berteriak di awal kata.
Aku memandang heran untuk seperkian detik, kemudian aku tersenyum lebar mengerti maksudnya, "iya, aku mau," jawabku singkat. Gadis ini mudah sekali ditebak, pikirku.
"Aku akan meminjamkan padamu setelah aku membacanya. Bagaimana?" sarannya padaku.
"Benarkah?" balasku dengan memasang senyum senangku.
Dia hanya mengangguk kecil, lalu mulai hening. "Kalau begitu, bagaimana aku menghubungimu?" sedikit kuberi jeda, lalu kulanjutkan, "Boleh aku meminta nomer ponselmu?"
Wah, tak kusangka reaksinya sangat lucu, mata di balik kaca mata itu membesar, menampakkan antusias. Sepi sejenak, kemudian dia mengangguk lagi dengan membenarkan letak kacamatanya dan mengambil kertas dan pensil, lalu menuliskan nomer ponselnya.

Setelah itu aku duduk di mejanya dan mengamati buku besar apa yang selalu dibawanya, ternyata buku desain interior, komentarku dalam hati sambil mengangguk kecil . Tak lama aku dihubungi mahasiswa magang yang meminta bantuanku untuk pergi ke percetakan. Sebagai penanggung jawab, tentu saja aku tak bisa menolak. Aku pamit dan langsung pergi begitu saja. Sesampainya di depan cafe, aku teringat bahwa aku lupa belum menanyakan namanya. Sejenak aku ingin kembali dan menanyakannya, tapi aku urungkan. "Ah, aku sudah mendapatkan nomer ponselnya," desahku sejenak, lalu melanjutkan jalanku dan tersenyum lebar.

fin.

Lanjutan dari Meja, Kursi, Jendela Kaca, dan Senja (1)

Ayo menulis~~

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Love Forever

Cinta sejati bukanlah hal yang klise. Aku percaya itu, itulah yang membuatku terus menunggu. Aku percaya dia akan datang padaku, sebuah harapan yang terus kugenggam dalam impianku. Mungkin bukanlah seorang pangeran, bukanlah seorang yang kaya ataupun charming. Cinta sejati yang selamanya akan terus berkembang meski kita sudah mati. I believed it. We never died. Bukankah itu kata yang aneh, tapi aku yakini itu. Ketika seseorang memiliki anak kandung, dia akan memberikan DNA pada anak itu, sebuah gen yang akan melekat pada anak itu. Anak itu akan terus berkembang hingga dia punya anak yang akan menjadi cucumu dan begitulah selanjutnya. DNA itu akan terus diturunkan. Jika kau memiliki cinta sejatimu, akankah itu lebih indah layaknya sebuah kelahiran. Hari ini aku baru saja menonton sebuah film yang menceritakan tentang sebuah cinta sejati yang hidup selamanya. Aku berpikir apakah tema cinta masih sesuatu hal yang utama dalam hidupku. Melihat kisah yang berakhir bahagia, hal yang mengheran...