Skip to main content

Posts

Palsu

Dunia in begitu menarik Sejenak aku menatapmu Tapi hatiku seakan merengkuh Dunia luas tampak mengecil Pohon yang bergerak mengikut arah angin Langit yang berarakan awan Pasangan serasi yang menawan Begitu jauh tapi bisa begitu dekat, meski itu semu. Menatap setiap hal seakan palsu Bisa datang, kapan pun bisa enyah Tahu itu, hanya menikmati Seakan esok akan pergi

The Light

Menahan tangis hanya akan sakit. Meski pun begitu jangan ernah menangis terlalu dalam dan terlalu sering. Ada saatnya aku bisa menangis, tapi pada keadaan terberat pun kau tak perlu menangis. Dan dalam keadaan paling bahagia kau bisa menangis. Menangis bukanlah menampilkan kelemahanmu. Katakan pada diri sendiri dan menekankan bahwa menangis bukan saat kita lemah. Hanya dengan menutup mata aku mendapatkan cahaya, karena cahaya yang paling berarti adalah cahaya saat dalam kegelapan. Senyuman terbaik adalah saat kesdihan sedang datang menerpa, saat musibah sedang dijalani, dan saat paling lemah. Senyuman itu sederhana, tapi begitu berarti. Saat dunia berbalik untuk memusuhimu, tersenyumlah! Karena itu berarti bahwa kau adalah orang yang pantas untuk diperhitungkan. Di saat paling teranglah kita memerlukan tenaga yang kuat untuk menampakkan cahaya kita. Karena itu mempertahankan itu lebih sulit untuk mendapatkan. Di saat paling tergelaplah kita dengan mudah menampakkan cahaya kita. Karena ...

Tembok Besar Cinta

~Kau menyusup dan melisit menjelajah setiap hidupku, tanpa harus menunggu kau meminta,  aku sendiri yang menghancurkan tembok itu. ~ ~Di sanalah aku merasakan sakit hati yang sesungguhnya untuk pertama kali.~ ~Tembok yang berhasil kau hancurkan, mulai kutata lagi, semakin kokoh dan kuat.~ *** Kau tahu kisah cinta takkan pernah berjalan mulus seperti jalan tol? Ya, aku tahu bahkan aku paham. Kau tahu betapa sulitnya aku membiarkanmu pergi, betapa tak relanya diriku untuk melupakanmu. Setiap yang kuingat mungkin bukan hal besar. Ah, aku paling susah mengingat sesuatu, yang jelas kisah-kisah kecil itu mampu meruntuhkan dinding yang dengan susah payah kubangun. Dan dengan pasrah aku menyadari itu, aku mulai menyerah untuk menambal lubang yang kau bobol dengan hal-hal kecil itu. Kau menyusup dan melisit menjelajah setiap hidupku, tanpa harus menunggu kau meminta, aku sendiri yang menghancurkan tembok itu. Tembok yang kubangun begitu kokoh dan tinggi ini. Well, I have a silly reason...

Meja, Kursi, Jendela Kaca, dan Senja (1)

Hari ini, aku melirik sepasang bangku dan meja di dekat jendela. Bangku dan jendela itu menyinarkan cahaya yang dipantulkan dari cahaya matahari yang menembus kaca jendela. Terletak di sebuah cafe yang menjual teh kesukaanku dan kopi kesukaanmu. Cahaya itu seakaan memantulkan bayanganmu yang sedang duduk tertunduk, seperti masuk dalam buku yang sedang kau baca hingga tak mempedulikan sekitarmu. Aku terpaku dengan silaunya cahaya itu, meski sedikit menyakitkan mata, aku tetap meliriknya. Saat kau berada di sana, bayangan samarmu itu membuatku sedikit menyipitkan mata karena cahaya, sekarang bayanganmu yang tak pernah jelas lagi membuatku pandanganku kabur. Buku yang kau baca dan segelas kopi yang selalu kau pesan, adalah dunia yang mengikatmu. Terpusat pada sebuah cerita yang kau bacakan. Hingga halaman terakhir sebuah bab, kau menengok kopimu yang ternyata sudah dingin. Sebuah ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya, wajah kecewamu yang bewarna oranye karena senja sore yang menem...

Restoran Cepat Saji

Aku terduduk di dekat jendela, memandang jalan raya yang lebih banyak dioenuhi sepeda motor. Cuaca cukup cerah meski terasa sedikit mendung. Dalam sebuah restoran cepat saji, aku memesan beef burger, minuman soda, dan kentang. Duduk di meja untuk dua orang, meski aku sendiri. Di depanku ada orang asing yang memesan menu yang hampir sama denganku, tapi dengan porsi yang lebih besar. Yang aku salut darinya adalah, setelah selesai makan, dia membuang sampah makanannya sendiri, bayangkan padahal ini di dalam restoran. Betapa mereka mencintai kebersihan. Pandanganku beraliuh pada sebuah bangunan tua di seberang jalan. Bangunan tua ala Belanda, bercat coklat, terdapat sebuah bangunan seperti menara di sebelahnya namun tanpa atap genteng, dan sedikit jendela tanpa bisa dibuka. Ah, ternyata itu bangunan PT PLN.. Arah jam 11 dari bangkuku, rerdapat seorang laki-laki dan perempuan sedang bercakap-cakap. Aku tak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Tapi aku menebak bahwa laki-laki itu mendengarka...

Rasi Mimpi

Hmm, ya disinilah aku sekarang, Terkulai lemas di atas kasurku. Warna biru selimutku memenuhi kasur itu. Aku baru saja bergadang untuk menyelesaikan tugas. Hampir semalaman aku tidak tidur, dan paginya aku harus mengkonsultasikan tugasku. Yah, beginilah aku , mahasiswi semseter akhir yang sedang skripsi. Dulu, senior pernah mengatakan padaku untuk bersiaplah dalam menghadapi skripsi. Apa semenakutkan itu? Benar saja, aku mendapati diriku sangat ingin menghindari skripsi. Melihat temanku yang sudang seminar proposal sedangkan aku masih awal berkonsultasi proposol, itu untuk pertama kalinya. Ini seperti rantai yang mengikatku dengan sangat kuat. Aku tak tahu apa aku bisa  bebas dari cengkraman yang tak bisa kuhindari ini. Aku masih terdiam tanpa bisa melakukakan apa pun. Tak ingin menyadari apa pun, tapi aku tahu jalan itu harus kutempuh. Saat cita-cita ini sudah dihadapanku, hatiku mulai goyah. Apakah benar ini keinginanku? Tapi mengapa begitu sulit untuk menggapai rasi kesuksesan. ...

Berhadapan dengan Mimpi

Bercerita sedikit tentang mimpiku saat SMA, Hmm,, Saat itu aku di jurusan IPA, cita-cita sejak SD adalah menjadi seorang guru. Aku tidak begitu mengerti tentang guru, aku hanya ingin menngunakan ilmu yang kudapatkan semasa sekolah. Saat aku kelas X SMA, aku lebih mengenal Bahasa Jepang, aku termasuk pembaca komik yang setia. Meski aku tidak bisa membeli komik jepang, aku biasa menyewa dari penyewaan komik. Ketika SMA ada pelajaran Bahasa Jepang, dalam pelajaran ini aku sangat bersemangat. Selalu memperhatikan pelajaran dan sering mengulang pelajaran di rumah, padahal untuk pelajaran lain, tidak. Bukan karena terpaksa melakukannya, tapi karena aku menyukainya. Aku serius dengan pelajaran bahasa jepang ini, aku ikut ekstrakulikuler juga. Hehe, menyenangkan!! :) Ketika ujian semester, aku mendapat nilai 98, hanya salah satu jawaban di nomer soal yang membuatku sedikit galau. Aku bertekad semakin serius di kelas berikutnya. Kelas XI, aku masuk jurusan IPA, disana aku mengenal teman yang se...