Skip to main content

Berhadapan dengan Mimpi


Bercerita sedikit tentang mimpiku saat SMA, Hmm,,
Saat itu aku di jurusan IPA, cita-cita sejak SD adalah menjadi seorang guru. Aku tidak begitu mengerti tentang guru, aku hanya ingin menngunakan ilmu yang kudapatkan semasa sekolah.

Saat aku kelas X SMA, aku lebih mengenal Bahasa Jepang, aku termasuk pembaca komik yang setia. Meski aku tidak bisa membeli komik jepang, aku biasa menyewa dari penyewaan komik. Ketika SMA ada pelajaran Bahasa Jepang, dalam pelajaran ini aku sangat bersemangat. Selalu memperhatikan pelajaran dan sering mengulang pelajaran di rumah, padahal untuk pelajaran lain, tidak. Bukan karena terpaksa melakukannya, tapi karena aku menyukainya.

Aku serius dengan pelajaran bahasa jepang ini, aku ikut ekstrakulikuler juga. Hehe, menyenangkan!! :) Ketika ujian semester, aku mendapat nilai 98, hanya salah satu jawaban di nomer soal yang membuatku sedikit galau. Aku bertekad semakin serius di kelas berikutnya.

Kelas XI, aku masuk jurusan IPA, disana aku mengenal teman yang sejjenis denganku, pecinta komik, buku novel, dan fiksi. Semakin menggila aku dengan buku-buku itu, untuk jejepangan juga. Aku mengenal penyanyi bernama YUI. dari sebuah PV di stasiun TV lokal, membuatku terpukau dengan jepang. Semakin aku mencari tahu tentang penyanyi itu dan jepang.

Buku catatan yang terbaik, terbagus, dan terapi selama kelas XI adalah buku catatan Bahasa Jepang, meski aku tidak begitu rajin dan pandai selama proses, aku berhasil mendapatkan nilai 100 di ujian semester, padahal aku kehilangan buku catatanku, so aku tidak belajar/mengulang pelajaran bahasa jepang di minggu sebelum ujian. But, I get perfect score in 15 m, Amazing!!!


Sejak itu, aku bermimpi untuk pergi ke jepang, belajar bahasa jepang. Yah, tapi aku tetap ingin menjadi seorang guru. Impianku saat itu menjadi seorang guru Bahasa Jepang. D

Kelas XII, aku bercita-cita pergi ke jepang tanpa mengeluarkan uang, yaaa~h tapi beginilah diriku, hanya seorang gadis dengan banyak impian, kurang usaha, sangat pemalas, lebih suka membaca buku. bahkann berkeinginan memiliki sebuah perpustakaan pribadi.

Masa UN sangat menegangkan bagi kami, untuk angkatan terakhir di sebuah SMA. Mengapa angkatan terakhir, karena angkatan di bawah kami sudah menjadi SMK. Wow, bukan. Kita baru tahu itu juga ketika kela X, no problem. Oleh karena itu, semuanya berusaha keras untuk lulus UN, aku juga. Aku menetapkan diriku untuk tidak pacaran selama masa UN, dan aku menepatinya, meski sedikit penyesalan. Padahal aku tahu ada seseorang yang menyukaiku.

Aku bukan tipe anak rajin, aku lebih suka mengerjakan PR (pekerjaan rumah) di sekolah, tidak suka mengulang pembelajaran di rumah, dan ya lebih suka membaca komik atau novel. Selama UN, banyak siswa yang les, hmm, mengapa aku tidak? Alasannya sederhana, aku sangat tidak suka les, tempat les, dan sesuatu semacamnya termasuk les privat. Menurutku, itu bukanlah sebuah pendidikan yang baik, mengajari anak betapa pentingnya hasil daripada proses.

Dan yang membuatku tidak suka adalah, les membuat fungsi sekolah teralihkan. Namun tidak sepenuhnya salah penyelenggara les, sih! Sistem pendidikan di Indonesia yang mementingkan niali kognitif juga ikut andil dari penyebabnya. \

Tanpa les, aku tetap lulus, bagaimana bisa bagi siswa pemalas sepertiku? Walau aku tidak rajin aku selalu memeperhatikan pelajaran di kelas, aku selalu menekankan dalam otakku, mengingatnya dan menuliskannya dalam catatan.

Di Kelas XII, aku cukup ahli dalam perhitungan, aku termasuk anak yang lumayan pandai, mungkin. Beberapa kutubuku yang sering bicara denganku. Tapi aku juga cukup dekat dengan anak-anak yang tidak kutubuku, kok. Intinya aku di kedua dolongan yang berbeda. And I like it!

Dari sana, aku memutuskan untuk menjadi guru Matematika, lalu kursus Bahasa Jepang, aku akan mengumpulkan uang sebagai guru untuk pergi ke Jepang. Ya, itulah mimpi SMA yang kurajut.

Lalu, aku semakin menyukai membaca novel, satu impianku terurai lagi, menjadi seorang penulis. Saat aku membuaka hasil tes IQ, aku melihat pekerjaan yang disarankan,

  1. Perawat - aku sama sekali tidak pernah memikirkan ini, menyangkut nyawa orang, dan aku tidak memiliki tanggung jawab sebesar itu-.
  2. Astronot - Yeah, that's my dream in Elemtary School. Aku suka melihat bintang dan sebagainya. Tapi menurutku ini sedikit impossible-.
  3. Penulis - aku memikirkannya lebih keras, aku suka novel, dan yeah, aku bermimpi menjadi seorang penulis juga-
Aku mulai menulis di sebuah buku, bercerita tentang kisah fiksi petualangan. Aku berhasil menulinya dengan tanganku, meski butuh waktu setahun, tapi aku berhasil menyelesaikannya. Semenjak itu, aku suka menulis puisi, ide cerita, dan sebagainya dalam sebuah buku. Hingga aku memiliki komputer dan aku mulai mengetik di sana.

Saat Kelas XII, banyak temanku yang tertari di PGSD, apa itu? Pendidikan Guru Sekolah Dasar, beberapa temanku mendaftar PMDK dan tidak diterima, sesusah itukah.

Lalu aku lulus dengan sukse, Yeah!!! Angkat tangan, untuk bersorak.

Pilihanku saat itu, aku mengambil formulir SNMPTN atau bekerja. Aku mencoba keberuntunganku. Hmm, jika aku tidak diterima melalui SNMPTN, maka aku akan bekerja. Lalu aku mengambil formulir SMNPTN jenis IPC, campuran IPA dan IPS, jadi aku mengerjakan soal jenis IPA dan IPS. Dalam pilihan jurusan aku memilih:

  1. Pendidikan Matematika - di Uni dalam kota, aku tidak diperbolehkan keluar kota, padahal aku sangat menginginkan itu -.
  2. PGSD - hanya coba-coba, bingung memilih jurusan yang cocok di kota sendiri masih di Uni yang sama -.
  3. Pendidikan Bahasa Jepang - aku memilih di UNESA, yeah keluar dari kotaku, hanya coba-coba. Meski diterima, aku tidak akan mengambilnya.
Dan, owh. Aku diterima di PGSD, jadi aku mengambilnya. Padahal ketika mengerjakan tes itu, aku kerjakan tanpa belajar kembali, hanya mengisi seadanya, sedikit berusaha di tes TPA, karena aku menyukainya. di soal IPS sedikit bingung dan was-was, sudah hampir dua tahun aku tidak menyentuh pelajaran sosial ini.

Sekarang sampailah aku di ujung usahaku, dan aku bingung memilih. Jadi seorang guru atau penulis? Penulis merupakan hal yang sangat kusenangi, aku selalu menghabiskan banyak waktu di kegiatan ini, dan yang terpenting It's my passion. Guru adalah cita-citaku sejak kecil, dan ini merupakan pekerjaan yang cukup menjanjikan, tapi perjalanannya sangat melelahkan. Sekarang aku di titik paling lelah. Di ujung impian, pilihan menghampiriku? Aku bingung melakukan yang mana, dan akhirnya, aku tidak melakukan apa pu.

Aku tahu ini salah, tapi aku takut mengambil langkah. Langkah kecil, dengan memaksa yang membuatku aman atau langkah besar yang menjadi hasratku, tapi menegecewakan orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Love Forever

Cinta sejati bukanlah hal yang klise. Aku percaya itu, itulah yang membuatku terus menunggu. Aku percaya dia akan datang padaku, sebuah harapan yang terus kugenggam dalam impianku. Mungkin bukanlah seorang pangeran, bukanlah seorang yang kaya ataupun charming. Cinta sejati yang selamanya akan terus berkembang meski kita sudah mati. I believed it. We never died. Bukankah itu kata yang aneh, tapi aku yakini itu. Ketika seseorang memiliki anak kandung, dia akan memberikan DNA pada anak itu, sebuah gen yang akan melekat pada anak itu. Anak itu akan terus berkembang hingga dia punya anak yang akan menjadi cucumu dan begitulah selanjutnya. DNA itu akan terus diturunkan. Jika kau memiliki cinta sejatimu, akankah itu lebih indah layaknya sebuah kelahiran. Hari ini aku baru saja menonton sebuah film yang menceritakan tentang sebuah cinta sejati yang hidup selamanya. Aku berpikir apakah tema cinta masih sesuatu hal yang utama dalam hidupku. Melihat kisah yang berakhir bahagia, hal yang mengheran...