Skip to main content

Silent Confused



Aku hanya ingin menangisi diriku.
Menangis karena diriku sendiri.
Terpaku duduk tak bergerak.
Hanya termenung tak berdaya.

Begitu banyak hal di depanku, menanti
Terbentang begitu luas, penuh cabang
Pilihanku penentu setiap ujung jalan
Tak tahu apa yang menanti di sana

Akankah aku tersenyum?
Akankah aku tertawa?
Akankah aku menangis?
Akankah aku bersedih?


Aku tak mengerti dan tak tahu
Bagaimana jalannya hidup permainkan pikirku
Terkadang menangis karena bahagia
Terkadang tersenyum karena luka

Mengenal banyaknya kesakitan
Setiap jenis yang mengatur kelekahan
Hanya terdiam terpaku melihat
Benarkah yang kulakukan?

Seperti melakukan kesalahan
Aku semakin terpuruk ke dalam
Semakin diam tak terlihat
Diriku yang sekarang
Sangatlah menyedihkan

Apa itu hidup itu?
Kenapa begitu membingungkan?
Bagaimana semua terjadi begitu saja?

Hingga saat ini
Aku masih terdiam memandang
Tumpukan cabang yang aku pilih
Dan bingung membuat semakin terdiam

Tapi
Aku tak menyesali hidup
Meski terkadang merasa tak berguna
Apa artinya hidup jika aku tak mengerti apa pun
Yang terpenting, aku mengerti
Hingga saatnya nanti, aku berusaha

Comments

Popular posts from this blog

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Cermin

Judul : Cermin Author : Ludia M.P Project for :    @YUI17Melodies     #MelodiHijauOranye    Theme Song : YUI- Again Keywords : tangis, awal, mimpi, kenangan, dan musuh Aku menatap cermin di depanku, meneliti setiap detil diriku. Rambut ikal panjang sepinggang yang biasa dipuji oleh orang karena sedikit unik. Rambut yang mengembang ini sedikit mengganggu ketika angin menerjang, akan menampakkan rambut berantakan dan terlihat seperti monster besar. Aku memandang wajah itu, kulit putih dengan sedikit bekas jerawat di pipi kanan. Wajah sedikit oval, hidung yang tak terlalu mancung, bibir merah jambu tersenyum, mengulum bibirku sendiri dan memuji diri sendiri. Aku cukup bangga dengan bentuk bibir ini. Mata tajam yang memandang mata di seberang cermin itu. Mata sipit dengan bola mata bewarna coklat ke arah hitam, bulu mata yang melengkung manis bertengger di bagian atas dan bawah mata, dan alis tipis bekar dicukur lebih ke arah berantakan. Memandang mat...

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...