Skip to main content

Posts

Restoran Cepat Saji

Aku terduduk di dekat jendela, memandang jalan raya yang lebih banyak dioenuhi sepeda motor. Cuaca cukup cerah meski terasa sedikit mendung. Dalam sebuah restoran cepat saji, aku memesan beef burger, minuman soda, dan kentang. Duduk di meja untuk dua orang, meski aku sendiri. Di depanku ada orang asing yang memesan menu yang hampir sama denganku, tapi dengan porsi yang lebih besar. Yang aku salut darinya adalah, setelah selesai makan, dia membuang sampah makanannya sendiri, bayangkan padahal ini di dalam restoran. Betapa mereka mencintai kebersihan. Pandanganku beraliuh pada sebuah bangunan tua di seberang jalan. Bangunan tua ala Belanda, bercat coklat, terdapat sebuah bangunan seperti menara di sebelahnya namun tanpa atap genteng, dan sedikit jendela tanpa bisa dibuka. Ah, ternyata itu bangunan PT PLN.. Arah jam 11 dari bangkuku, rerdapat seorang laki-laki dan perempuan sedang bercakap-cakap. Aku tak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Tapi aku menebak bahwa laki-laki itu mendengarka...

Rasi Mimpi

Hmm, ya disinilah aku sekarang, Terkulai lemas di atas kasurku. Warna biru selimutku memenuhi kasur itu. Aku baru saja bergadang untuk menyelesaikan tugas. Hampir semalaman aku tidak tidur, dan paginya aku harus mengkonsultasikan tugasku. Yah, beginilah aku , mahasiswi semseter akhir yang sedang skripsi. Dulu, senior pernah mengatakan padaku untuk bersiaplah dalam menghadapi skripsi. Apa semenakutkan itu? Benar saja, aku mendapati diriku sangat ingin menghindari skripsi. Melihat temanku yang sudang seminar proposal sedangkan aku masih awal berkonsultasi proposol, itu untuk pertama kalinya. Ini seperti rantai yang mengikatku dengan sangat kuat. Aku tak tahu apa aku bisa  bebas dari cengkraman yang tak bisa kuhindari ini. Aku masih terdiam tanpa bisa melakukakan apa pun. Tak ingin menyadari apa pun, tapi aku tahu jalan itu harus kutempuh. Saat cita-cita ini sudah dihadapanku, hatiku mulai goyah. Apakah benar ini keinginanku? Tapi mengapa begitu sulit untuk menggapai rasi kesuksesan. ...

Berhadapan dengan Mimpi

Bercerita sedikit tentang mimpiku saat SMA, Hmm,, Saat itu aku di jurusan IPA, cita-cita sejak SD adalah menjadi seorang guru. Aku tidak begitu mengerti tentang guru, aku hanya ingin menngunakan ilmu yang kudapatkan semasa sekolah. Saat aku kelas X SMA, aku lebih mengenal Bahasa Jepang, aku termasuk pembaca komik yang setia. Meski aku tidak bisa membeli komik jepang, aku biasa menyewa dari penyewaan komik. Ketika SMA ada pelajaran Bahasa Jepang, dalam pelajaran ini aku sangat bersemangat. Selalu memperhatikan pelajaran dan sering mengulang pelajaran di rumah, padahal untuk pelajaran lain, tidak. Bukan karena terpaksa melakukannya, tapi karena aku menyukainya. Aku serius dengan pelajaran bahasa jepang ini, aku ikut ekstrakulikuler juga. Hehe, menyenangkan!! :) Ketika ujian semester, aku mendapat nilai 98, hanya salah satu jawaban di nomer soal yang membuatku sedikit galau. Aku bertekad semakin serius di kelas berikutnya. Kelas XI, aku masuk jurusan IPA, disana aku mengenal teman yang se...

Silent Confused

Aku hanya ingin menangisi diriku. Menangis karena diriku sendiri. Terpaku duduk tak bergerak. Hanya termenung tak berdaya. Begitu banyak hal di depanku, menanti Terbentang begitu luas, penuh cabang Pilihanku penentu setiap ujung jalan Tak tahu apa yang menanti di sana Akankah aku tersenyum? Akankah aku tertawa? Akankah aku menangis? Akankah aku bersedih? Aku tak mengerti dan tak tahu Bagaimana jalannya hidup permainkan pikirku Terkadang menangis karena bahagia Terkadang tersenyum karena luka Mengenal banyaknya kesakitan Setiap jenis yang mengatur kelekahan Hanya terdiam terpaku melihat Benarkah yang kulakukan? Seperti melakukan kesalahan Aku semakin terpuruk ke dalam Semakin diam tak terlihat Diriku yang sekarang Sangatlah menyedihkan Apa itu hidup itu? Kenapa begitu membingungkan? Bagaimana semua terjadi begitu saja? Hingga saat ini Aku masih terdiam memandang Tumpukan cabang yang aku pilih Dan bingung membuat semakin terdiam Tapi Aku tak menyesali hidup Meski terkadang merasa tak ber...

Hidup Sang Benih

Apa takdir sebuah benih? Aku masih sebuah benih kecil yang tertutup oleh bunga yang indah. Sebuah bunga yang melindungiku hingga aku cukup kuat untuk terbang berkelana. Hidupku dimulai dari sebuah benih kosong tanpa bekal apa pun. Dan bunga ini dengan setia memberiku makanan dan kenyamanan. Demi hidupnya, dia berada di tempat yang selalu terkena cahaya matahari, cukup air untuk meberi sebuah kehidupan. Meski tempat itu berada sangat terlihat dan berbahaya. Di sebuah jalanan yang dipenuhi orang yang berjalan. Bunga ini sendirian, berjuang demi kehidupan berikutnya. Tapi dari sana, terlihat sebuah taman yang indah dan tertata rapi, terlindungi dari bahaya bahkan dijaga sepenuh hati oleh penjaga taman. Bunga ini tak begitu indah, dia hanya sebuah jenis rumput dengan bunga berwarna ungu, rumput seperti ini biasanya hidup bersama dengan lainnya, tapi berbeda, dia sendirian. Aku yang hanya bisa melihat keadaan luar dari dalam dengan lindungan selaput tipis pelindungku. Setiap ujian  pun ...

Langit-langit Kamar

Aku ingin menghancurkan kenangan itu, aku ingin bertahan pada kenangan itu, aku tidak mengerti diriku. Aku ingin kembali ke masa kecil  dimana aku bisa katakan apa yang aku rasakan, aku inginkan, dan aku lakukan. Tanpa merasa takut , aku melakukan segala hal yang belum bisa kumengerti. Tanpa menanyakan alasan, aku lakukan apa yang ada dihadapanku. Membuat kesalahan dengan mudah dan hanya tersenyum untuk memperbaikinya Masa kecil  dimana aku membuat kesalahan-kesalahan kecil dan orang hanya menggelengkan kepala, memaklumi. Aku yang tak tahu masa itu akan lewat begitu saja, aku membuangnya begitu saja. Kenangan yang ingin kulupakan, tapi begitu berharga. Kenangan yang takkan mungkin hilang dari masa laluku. Melekat dengan erat dalam hidupku, mengiringi setiap langkah. Aku hanya ingin menjadi anak kecil yang bisa menangis tanpa merasa malu. Tentu saja aku tidak bisa mengulanginya bahkan ketika aku mencoba bersembunyi di kota tak dikenal, aku hanya memeikirkan yang sedang terjadi ...

Dodon : Matimatika -_-"

Dodon, si anak cungkring bertubuh tinggi, berbadan gelap segelap semut hitam yang lagi nangkring di baju hitam. Mukanya sih standar, standar abang becak. Dibilang cakep, lumayan lah! Lumayan dikit, sekitar 5% di belakang kuping, lumayan ada tailalat gede yang katanya benda keberuntungan. Yah, mo gimana lagi, padahal dirinya suka sial. Kenapa tuh sial selalu nempel sama si Dodon, apa sih salah Dodon kok sampe sial setia banget. Apa karena Dodon terlalu manis? bangganya sendiri, saking manisnya sampe diinggapi semut hitam, jadi ga keliatan mukanya. Walau pun ga ada indah-indahnya untuk dipandang, tapi temen-temennya suka banget mandang Si Dodon. Gimana ga di pandang, liat aja mukanya, ga ngapa-ngapain aja udah bisa bikin orang ngakak, apalagi kalo lagi nglawak di depan kelas, bujubune, mulut sampe berbusa gara-gara ketololan yang dia bikin. Pernah tuh di dalam kelas, Dodon maju ke depan karena disuruh Pak Bison ngerjain soal matematika. "Padahal udah tau, ngebaca simbol matematika a...