Skip to main content

Secangkir Flower Tea (2) Pertemuan

Pagi ini aku jalan-jalan di sekitar rumah untuk menikmati pagi yang lama tidak kurasakan. Cuaca sangat cerah, menskipun masih dingin karena gerimis kemarin malam. Tapi karena itu membuat semakin indah pagi ini.

Sesampainya di depan rumah, aku sangat keget dengan apa yang aku lihat. Benarkah itu dia? Gadi ini sangat mungil, dia mencoba mengintip ke dalam rumah, meski tahu hal yang dilakukannya percuma dia tetap melakukannya. Gadis itu memakai kardigan warna biru cerah, rok selutut bermotif bunga matahari yang cerah, sepatu mungil bewarna putih, rambutnya yang panjang dia kuncir dengan bando kawat bermotif bunga matahari, tas kecil yang disampirkan di bahu kirinya, dan di tangan kanannya dia membawa bungkusan yang bermotif bunga dandelion. Kurasa anak ini sangat menyukai bunga.

Sekian detik aku memandangnya, tapi dia tetap tidak menyadari keberadaanku. Akhirnya, aku memanggilnya, "Risa?"
Dia menoleh dengan kaget,"Hai", sapanya karena kaget dan diteruskan, "Mau Sandwich?"

Aku tersenyum kecil, dia Risa. Risa kecil yang selalu bersamaku, Risa kecil yang selalu ada saat itu, Risa kecil yang selalu mengulurkan tanganku. Itu Risaku.

###


Aku menceritakan banyak hal tentangku pada Doni, selama Doni tidak ada di sini. Bercerita tentang hidupku, pekerjaanku yang sekarang menjadi penjaga minimarket saat malam, tentang aku yang tidak kuliah, dan banyak hal lainnya. Bahkan tentang aku yang hanya tinggal dengan ibuku. Begitu banyak cerita yang aku lontarkan, Doni hanya mendengarkan dan hanya menampakkan ekspresi yang singkat hingga terkadang aku melewatkannya.

"Lalu, di mana ayahmu sekarang?" tanyanya.
Aku sudah biasa mendengar pertanyaan itu, tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihku tentang ayah.
Hening beberapa detik meninggalkan hal yang tak nyaman, dan dia memecahkannya,"Aku bisa bertemu dengannya?"
Aku memandangnya, melihat matanya yang sungguh-sungguh. Bukan rasa kasihan yang sering aku lihat di mata orang lain. Tatapan yang hanya ingin pergi menemui ayahku, tatapan yang meyakinkanku bahwa aku kuat. Ya, aku memang kuat. Aku takkan menangis lagi, itu janjiku pada ayah dan aku akan selalu menjaga ibuku, itu pasti.
"Baiklah, kapan?" tanyaku.
"Hari ini aku akan mengurusi kepindahanku, jadi aku tidak bisa. Besok?"
"Tentu, aku juga harus bekerja hari ini. Hmm, tapi ayah ada di tempat yang lumayan jauh dari sini."
"Jam 8 pagi dan mungkin kau bisa memberiku sarapan?" jawabnya dengan sedikit sunggingan senyum yang menawan.
Aku tertawa lebar untuk membalasnya, "Tentu."
###

Dalam matanya aku melihat sebuah kesakitan kecil yang terlintas. Tapi bigitu cepat melihat. Dia berbeda dengan Risa yang kecil dan mungil yang terlihat rapuh di masa lalu. Sekarang Risa menjadi kuat dan begitu tegar menghadapi kehidupannya.

Saat melihat dia bercerita tentang ayahnya, aku ingin memeluknya dengan erat dan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja jika aku di sini. Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang, aku hanya bisa memandangnya dan memberikan semangat dalam bentuk lain. Semangat meski ayahnya tiada, ayahnya akan selalu di hatinya. Hanya itu yang bisa aku lakukan.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Love Forever

Cinta sejati bukanlah hal yang klise. Aku percaya itu, itulah yang membuatku terus menunggu. Aku percaya dia akan datang padaku, sebuah harapan yang terus kugenggam dalam impianku. Mungkin bukanlah seorang pangeran, bukanlah seorang yang kaya ataupun charming. Cinta sejati yang selamanya akan terus berkembang meski kita sudah mati. I believed it. We never died. Bukankah itu kata yang aneh, tapi aku yakini itu. Ketika seseorang memiliki anak kandung, dia akan memberikan DNA pada anak itu, sebuah gen yang akan melekat pada anak itu. Anak itu akan terus berkembang hingga dia punya anak yang akan menjadi cucumu dan begitulah selanjutnya. DNA itu akan terus diturunkan. Jika kau memiliki cinta sejatimu, akankah itu lebih indah layaknya sebuah kelahiran. Hari ini aku baru saja menonton sebuah film yang menceritakan tentang sebuah cinta sejati yang hidup selamanya. Aku berpikir apakah tema cinta masih sesuatu hal yang utama dalam hidupku. Melihat kisah yang berakhir bahagia, hal yang mengheran...