Skip to main content

Perang Dingin

Waktu memandangmu aku hanya terdiam. Entah apa yang membuat dirimu berbeda. Ataukah karena tembok besar yang kau bangun itu, menghalangi segala hal baik yang akan engkau terima. Kau hanya punya satu pintu di ujung bentengmu, hanya bisa dilewati oleh orang yang kau pilih. Tak menghiraukan orang lain, yang sudah rela berbaris untuk masuk, tapi engkau menolaknya dengan sikap tak peduli.

Dia tak sekali mencoba untuk berbaris di sana, meski dengan cara lain kau tetap mengusirnya secara dingin.
Entah apa yang kau pikirkan, tapi kami masuk bukan untuk meruntuhkan bentengmu, kami hanya ingin bersamamu.

Demi sebuah ideologi yang kau pertahankan. Tentang kriteria orang yang mampu masuk.
Demi sebuah keegoisanmu tentang kehidupan. Segala apa yang kau inginkan haruslah nampak di depanmu.
Kau benci dengan satu hal, sehingga kau akan membenci segalanya
Kau selalu memandang dari satu sisi, yaitu pintu kecil di sudut itu.
Kau benci dengan segala yang tidak cocok denganmu
dan kau akan membenci segalanya.
Kau pertahankan ketidakadilan itu pada dirimu demi prinsip yang ingin kau pertahankan.

Hanya diam yang bisa kami lakukan, hanya sakit yang kami rasakan saat kau mengacuhkan kami.
Itu cukup untuk membuatku berpikir, aku akan berada di zona aman yang kau tentukan, dalam sebuah keterpaksaan.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Sisi

Menangislah wahai kesedihan Menangislah dekapan hujan Menangislah dalam kesedihan Menangislah dalam kesunyian Jangan menangis dalam terangnya matahari Hujan akan menutupi kesedihanmu Hingga hujan terhapuskan oleh matahari Pelangi akan mengeringi senyummu Hidup memang takkan terus ada senyuman Hidup bukan hanya sekedar kebahagiaan Hidup tak hanya untuk mencapai kematian Hidup adalah sebuah proses penerimaan Penerimaan kesedihan Penerimaan kebahagiaan Penerimaan kesunyian Penerimaan kebersamaan Menangis bukan hanya sekedar kelemahan Senyuman bukan hanya sekedar kebahagiaan Akan ada dua sisi dalam setiap perlakuan Entah kapan itu, butuh sebuah keyakinan Love Ruu

Cermin

Judul : Cermin Author : Ludia M.P Project for :    @YUI17Melodies     #MelodiHijauOranye    Theme Song : YUI- Again Keywords : tangis, awal, mimpi, kenangan, dan musuh Aku menatap cermin di depanku, meneliti setiap detil diriku. Rambut ikal panjang sepinggang yang biasa dipuji oleh orang karena sedikit unik. Rambut yang mengembang ini sedikit mengganggu ketika angin menerjang, akan menampakkan rambut berantakan dan terlihat seperti monster besar. Aku memandang wajah itu, kulit putih dengan sedikit bekas jerawat di pipi kanan. Wajah sedikit oval, hidung yang tak terlalu mancung, bibir merah jambu tersenyum, mengulum bibirku sendiri dan memuji diri sendiri. Aku cukup bangga dengan bentuk bibir ini. Mata tajam yang memandang mata di seberang cermin itu. Mata sipit dengan bola mata bewarna coklat ke arah hitam, bulu mata yang melengkung manis bertengger di bagian atas dan bawah mata, dan alis tipis bekar dicukur lebih ke arah berantakan. Memandang mat...

Secangkir Flower Tea (1) Pagi yang Indah

Hari itu aku melihatmu kesakitan, mendengarkan setiap jeritan yang terdengar darimu. Batapa hancurnya aku saat kau mengerang kesakitan, betapa runtuhnya aku saat kau menggenggam bajuku. Meski kau tahu cengkraman itu takkan pernah membuat rasa sakitmu tak berhenti. Segalanya membuatku ingin menumpahkan air mataku. Tidak, aku takkan meluapkannya, aku akan tegar untuk menopangnya. Saat aku memutuskan untuk di sampingnya, aku akan menjadi kuat. Itulah janjiku saat itu. ### Hari itu, seperti biasa aku bertemu dengannya di depan rumahnya. Aku sudah berdiri di depan bel pintu itu selama 15 menit, tapi ragu untuk memencetnya hingga akhirnya dia, Doni berdiri di belakangnya. Aku sangat kaget tiba-tiba dia menyapanya. "Risa?" "Hai," aku terpaku dan hanya bisa mengatakan itu. Apa itu terlihat jelas? Doni memiringkan kepalanya sedikit dan akan bertanya lagi, sebelum aku memotong, "Mau sandwich?" dengan menunjukkan kotak makanan di depannya. Doni mengangguk mentakan iy...